Jumat, 23 Oktober 2015

Berita Lingkungan

Air Bersih Mulai Langka
 
            Bengkulu – Kurangnya sumber air bersih sudah melanda Bengkulu sejak dua bulan terakhir.  Sumur-sumur diberbagai desa di Bengkulu sudah tidak lagi meghasilkan air yang layak pakai.
 
           Parahnya lagi di beberapa wilayah di Bengkulu sumur tidak lagi menghasilkan air. Semua aktivitas warga terhambat akibat dari kemarau panjang tahun ini.
 
           Warga yang mengalami krisis air bersih terpaksa membeli air galon untuk minum, memasak,  mencuci hingga mandi. Sampai saat ini belum ada bantuan langsung dari pemerintah Bengkulu untuk mengatasi masalah krisis air. 
 
           Menurut  RA, mahasiswi Universitas Bengkulu yang ngekos di daerah Kandang Limun, tidak ada jalan lain, terpaksa kami membeli air galon untuk memasak,  minum, bahkan untuk mandi. Sumur tidak bisa lagi menghasilkan air, ini sangat mengganggu keberlangsungan hidup saya, membuat semua pekerjaan terhambat. 
 
           Menurut RA, sebagai anak kos yang hanya di beri uang jajan pas-pasan untuk makan dan keperluan kuliah kini diberatkan dengan biaya untuk membeli air bersih. Jika satu galon dengan harga Rp 5000 hanya bisa digunakan untuk satu kali mandi, akan banyak biaya yang dikeluarkan hanya untuk mencukupi air bersih setiap harinya. 
 
         Air galon sementara ini menjadi alternatif bagi anak kos yang mengalami krisis air, mereka tidak punya alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan setiap harinya. Diharapkan kedepannya pemerintah lebih peka dalam mengatasi krisis air di Bengkulu.

Berita kehidupan sehari-hari

Gedung Bersama II Krisis Lahan Parkir
 
           Bengkulu – Area parkir Gedung Bersama II Universitas Bengkulu kian membludak. Area parkir yang disediakan tidak lagi bisa menampung semua kendaraan bermotor yang diperuntukan khusus bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan Fakultas Teknik. Kendaraan sangat terlihat ramai di hari sibuk kuliah. Bila waktu kuliah tiba maka halaman Gedung Kuliah Bersama II dipenuhi sesak kendaraan yang mempersulit siapa pun untuk masuk ke dalam gedung. Selain itu mahasiswa yang memarkirkan kendaraan disana akan sulit untuk mengeluarkan kendaraannya.
 
            Efri, 22 Tahun yang bertugas mengamankan lahan parkir di kawasan GB 2 Unib mengatakan bahwa menurut yang ia ketahui, dia diperintah langsung dari pihak FISIP. Ia akan selamanya bertugas di sana, dari pukul 08.00-16.00. ia pun mengaku mendapat tugas untuk mengatur pengendara yang memarkirkan kendaraannya di GB 2 agar tidak terlihat amburadul. 
 
            Hampir setiap jam kuliah parkiran motor selalu padat, sampai-sampai ke pinggir jalan ada dua baris motor yang tidak dapat tempat parkir di dalam terpaksa memarkirkan motor mereka di pinggir jalan. Yang akhirnya menimbulkan kemacetan dan susahnya kendaraan (motor) keluar masuk parkiaran.
 
           Vanny mahasiswi ilmu komunikasi 2013 menyatakan bahwa dari pagi sampai siang hari parkiran GB II selalu penuh. Keluhan lain juga datang dari Misia, salah seorang mahasiswa Teknik Informatika 2013 yang menyatakan tentang lahan parkir yang sempit. “Motor sering lecet. Lalu parkiran sempit dan sering penuh,” tutup Misia.
 
           Semua fasilitas yang tidak memadai itupun membuat mahasiswa resah dan merasa tidak mendapatkan hak nya sebagai mahasiswa . Masalah ini pun belum ada penyelesaiannya. Bukankah sudah seharusnya failitas-fasilitas belajar mahasiswa  itu ditambah dan di adakan pembaharuan kembali? Agar mahasiswa akan lebih kondusif saat belajar .Masalah ini pun membuat mahasiswa beranggapan bahwa universitas hanya menuntut kewajiban mereka dan mahasiswa tidak mendapatkan haknya.